Kita Masih Bukan Pahlawan

Mengenang perjuangan para pahlawan yang rela mengorbakan jiwa dan raganya saya pikir sangat perlu dan bahkan suatu keharusan. Namun entah kenapa saat ini banyak masyarakat yang sepertinya sudah melupakan perjuangan mereka. Memang mereka tak berharap kita kenang, namun bukan berarti kita harus melupakan perjuangan mereka kan ? Akankah kita harus merasakan pahitnya penjajahan terlebih dahulu agar bisa merasakan betapa pentingnya sebuah perjuangan para pahlawan ? Saya rasa tidak kan ? Para pahlawan adalah manusia-manusia biasa seperti kita, makannya nasi minumnya air putih dan juga kopi, namun hati mereka bagai emas mulia.

Makan ubi singkong, pangkal pohon pisang, nasi jagung, nasi tiwul hanyalah sedikit dari kisah pahitnya masa penjajahan yang dilaluinya. Tidur tidak tenang karena nyawa kapanpun siap melayang. Pengantin baru harus berpisah dengan sang suami karena harus maju ke medan perang. Keluar masuk hutan menelusuri sungai, tertatih-tatih berjalan, darah bercucuran mengalir dari kaki sang pahlawan.

Kita memang tidak merasakan zaman itu, mungkin kita hidup dengan bergelimang harta dan kekuasaan. Namun sayang kita tak memiliki semangat para pahlawan saat itu “hidup merdeka atau mati, Allahu Akbar ….”. Mereka rela mati dengan penuh ketulusan dan keikhlasan dalam memaknai hidupnya asal anak cucunya (kita-kita ini) bisa merasakan kemerdekaan. Mereka cuma ingin anak cucunya (kita-kita ini) bisa menikmati dan memiliki arti hidup di dunia ini.

Akankah kemerdekaan ini kita isi dengan perbuatan-perbuatan nista dan tidak berguna ? Mestinya kita malu pada diri sendiri, karena tidak bisa memberikan peninggalan yang berarti buat anak cucu kita nanti. Kita Bukan Pahlawan ! Kita belum jadi pahlawan ! Kita tidak memiliki semangat untuk jadi pahlawan ! Kita masih egois !

(Semoga amal ibadah para pahlawan yang telah mendahului kita diterima Allah Swt dan dilipatgandakan pahalanya, serta dosa-dosa beliau diampuni-Nya.)